Our Feeds

Sabtu, 08 April 2017

Negara Daha

Awal Mula dan Kronologi Konflik Yaman Terjadi

Semua negara peradaban pernah melalui konflik atau perang. Kenyataannya konflik tersebut tidak pernah membawa dampak positif bagi kemajuan suatu negara, justru lebih banyak dampak negatifnya. Banyak alasan yang melatar belakangi konflik itu terjadi, seperti sentiment agama yang menyulut perang saudara, pemberontakan kepada pemerintah atau menghentikan kekuasaan yang dictator dan totaliter. Akhir-akhir ini konflik sedang terjadi di Jazirah Arab, konflik di Tunisia, kemudian ke Mesir, berlanjut ke Konflik Libya dan kini Konflik di Yaman yang jelas-jelas memberikan dampak buruk terhadap penderitaan masyarakat sipil.

Masyarakat sipil menjadi korban dan penindasan kemanusiaan yang terjadi memberi pengaruh buruk pada kondisi sosial masyarakat Yaman. Konflik Yaman telah membawa penduduk sipil terjebak dalam penderitaan yang dimulai dengan pertikaian negara-negara arab dengan pemberontak Houthi. Akibatnya, masyarakat sipil terkena bencana kelaparan yang cukup parah. Indonesia sendiri berperan aktif dalam memberikan donasi untuk Yaman. Tujuannya adalah membantu warga sipil yang terkena dampak dari konflik berkepanjangan tersebut.

Pada 27 Januari 2011, warga menuntut Presiden Ali Abdullah Saleh untuk mundur dari jabatannya. Protes dan konflik mulai meletup di Yaman hingga korban jiwa pun mencapai 2000 jiwa. Presiden Ali Abdullah Saleh pun mundur dari jabatan Presiden. 

Setahun berselang, tepatnya 24 Februari 2012, Presiden baru ditunjuk oleh pihak oposisi Yaman. Presiden baru itu tak lain adalah wakil presiden sebelumnya yakni Abdul Rabbo Mansour Hadi. Jauh dari harapa, Mansour tidak banyak mendapat dukungan dari masyarakat dan konflik pun terjadi lagi. 
Konflik Yaman. (foto: antaranews.com)
Dan konflik semakin memanas karena pasukan Houthi melakukan pertempuran dengan pasukan pemerintah Yaman. Ibukota Sanaa digempur oleh pasukan Houthi, tepatnya 17 September 2014. Serangan berlanjut, 20 Januari 2015 berhasil menyerang Istana Perdana Menteri dan Istana Presiden. 23 Januari 2015 Pasukan Houthi berhasil menduduki Istana Presiden dan memaksa Mansour Hadi untuk mundur dari jabatannya. Pemerintahan baru yang dibentuk pemberontak tidak mendapat dukungan masyarakat Yaman.

Presiden Mansour Hadi berhasil melarikan diri dari kepungan Pemberontak Houthi atas bantuan Dewan Keamanan PBB. Kemudian dua hari setelah melarikan diri, yakni 23 Maret 2015 Presiden Mansour Hadi menyatakan menarik kembali pengunduran dirinya sebagai Presiden. Kota Aden dijadikan Ibukota Yaman Sementara. Sebulan berikutnya Presiden Mansour Hadi meminta pertolongan pada negara-negara Jazirah Arab untuk melawan pemberontak Houthi. 

26 April 2015 pasukan negara arab dengan dipimpin arab Saudi menyanggupi permintaan Mansour Hadi untuk memukul mundur dan menyerang Houthi. 

Sayang, konflik itu merusak stabilitas negara, masyarakat sipil menjadi korban dan justru perdamaian dunia yang dicita-citakan belum kunjung tiba. Ada yang salah dengan proses bernegara yang sedang terjadi di Yaman, dimana rakyat diabaikan begitu saja. Semoga Bermanfaat.

Subscribe to this Blog via Email :
Previous
Next Post »